ABSTRAKSI

Kurangnya nilai guna dari kulit hewan, seperti kulit buaya, kulit ular, kulit biawak, kulit rusa, kulit saham (kangguru, kulit ikan pari ) dikarenakan pada umumnya masyarakat pedesaan kurang mengetahui manfaat dari kkulit hewan tersebut. Mereka tidak pula memiliki ketrampilan yang memadai dalam hal pengolahan dan pemanfaatan kulit.

Industri kerajinan kulit selama krisis ekonomi ini masih menunjukkan eksistensinya bersama dengan industri sejenis lainnya. Dengan melihat prospek ekonomi kedepan dan ketersediaan bahan baku penyamakan serta kulit hewan yang ada, maka usaha penyamakan kulit serta industri kerajinan kulit mempunyai prospek yang baik. Penyamakan kulit dengan menggunakan bahan penyamakan lokal yaitu bahan nabati terutama getah gatanah ( Mangrove / Rhizopora sp ) dapat menekan biaya dan menghasilkan kualitas/mutu kulit yang sangat memuaskan.

Penelitian tentang perbedaan waktu rendam getah gatanah pada penyamakan kulit buaya hanya dipelajari dan terbatas pada proses penyamakan kulit gatanah. Pengaaruh waktu rendam getah gatanah terhadap mutu kulit hasil samakan yang akan meningkatkan kualitas kulit hasil samakan sehingga harga jual ( nilai jual ) kulit menigkat pula.

Tujuan daripada penelitian pengaruh waktu rendam getah gatanah pada penyamakan kulit adalah : 1) mendalami dan mengembangkan proses penyamakan kulit dengan bahan baku nabati yaitu getah gatanah ; 2) mengadakan penelitian tentang waktu rendam getah gatanah dalam proses penyamakan kulit terhadap mutu kulit yang dihasilkan ; 3) menguji kebenaran hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini.

Dengan demikian dapat diterapkan pada pengrajin kulit untuk jenis kulit buaya, kulit saham, kulit ular, kulit biawak, kulit rusa, kulit ikan pari untuk berbagai desain yang mempunyai nilai ekonomi yang menjanjikan sesuai dengan selera pasar. Desain-desain yang banyak diminati dan memiliki harga jual yang tinggi dapat dilihat pada model produk seperti tas stick golf, tas wanita, tas kantor, tas gantung, dompet pria daari kulit ikan pari dan ikat pinggang.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa lama rendam getah gatanah memperngaruhi mutu penyamakan kulit. Menigkatnya mutu kulit akan meningkatkan nilai harga jual hasil-hasil produksi kerajinan kulit.

ABSORBANSI LOGAM BERAT DENGAN KITOSAN

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil

Kemampuan kitosan dalam menyerap logam berat diuji pada praktikum ini dengan menggunakan kitosan yang berbeda konsentrasi. Logam berat yang digunakan adalah tembaga (Cu). Kitosan serbuk dan kitosan cair yang digunakan memiliki nilai absorbansi yang berbeda-beda terhadap Cu. Absorbansi kitosan serbuk dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel1. Absorbansi kitosan serbuk

No Serbuk (gram) Absorbansi
1 0,2 0,045
2 0,4 0,035
3 0,6 0,05
4 0,8 0,05
5 1,0 0,02
6 1,2 0,8

Kontrol (kitosan serbuk) = 0,02

Absorbansi kitosan cair berbeda dengan absorbansi kitosan serbuk. Nilai absorbansi kitosan cair dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Absorbansi kitosan cair

No Cair (ppm) Absorbansi A terakoagulasi % terakoagulasi
1 150 0,015 0.01 60
2 125 0,02 0.005 80
3 100 0,02 0.005 80
4 75 0,018 0.007 72
5 50 0,01 0.015 40
6 25 0,02 0.005 80

Kontrol (kitosan cair)=0,025

2.2 Pembahasan

Kitosan dalam bentuk cair memiliki sifat kejernihan yang tinggi, menghasilkan bentuk garam, dan dapat menyerap logam. Larutan yang mengandung logam ketika direaksikan dengan kitosan akan membentuk endapan (terkoagulasi). Prinsip koagulasi kitosan adalah penukaran ion di mana garam amina terbentuk karena reaksi amina dengan asam akan mempertukarkan proton yang dimiliki logam dengan elektron yang dimiliki oleh nitrogen. Kitosan dapat digunakan sebagai koagulan karena memiliki banyak kandungan nitrogen pada gugus aminanya. Gugus amina dan hidroksil menjadikan kitosan bersifat lebih aktif dan bersifat polikationik. Sifat tersebut dimanfaatkan sebagai kogulan dalam pengolahan limbah cair. Kitosan dapat mengikat logam berat karena kitosan merupakan polielektrolit bermuatan negatif sedangkan logam bermuatan positif (Sunardi 2004). Menurut Mc.Kay (1987) diacu dalam Rumapea (2009), kemampuan kitosan dalam mengikat logam membentuk kompleks kitosan ditunjukkan dalam reaksi berikut:

2 R – NH3+ + CU2+ + 2Cl- ——- (RNH2) CuCl2

Logam berat merupakan logam yang massa atom relatifnya besar. Logam berat berpotensi sebagai bahan pencemar yang berbahaya karena logam berat memiliki sifat yang tidak dapat dihancurkan (non degradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan, akibatnya logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik (Sunardi 2004). Tembaga (Cu) merupakan logam esensial yang bermanfaat dalam pembentukan haemosianin sistem darah dan enzimatik bagi hewan air (Darmono 1995). Konsentrasi Cu dalam air bila berada dalam kisaran 2,5-3,0 ppm akan membunuh ikan yang ada di dalamnya (Palar 2004). Apabila ikan yang tercemar logam Cu dikonsumsi oleh manusia akan mengakibatkan pengaruh buruk bagi kesehatan manusia itu sendiri. Gejala yang timbul pada manusia akibat keracunan akut adalah mual, muntah, sakit perut, hemolisis, metrifisis, kejang dan akhirnya mati. Logam Cu akan tertimbun di dalam hati dan menyebabkan hemolisis pada keracunan kronis (Darmono 1995).

Kitosan mampu menyerap logam berat termasuk Cu. Kitosan dalam bentuk cair memiliki sifat kejernihan yang tinggi, menghasilkan bentuk garam, dan dapat menyerap logam (Hirano 1984 diacu dalam Rumapea 2009). Absorbsi Cu dengan kitosan cair dipengaruhi oleh konsentrasi kitosan yang digunakan. Hubungan konsentrasi kitosan cair dengan absorbansi disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik absorbansi kitosan cair

Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat bahwa nilai absorbansi terkecil diperoleh dengan konsentrasi kitosan 50 ppm. Hasil absorbansi dengan penngunaan kitosan cair 125 ppm, 100 ppm dan 75 ppm tidak berbeda jauh, sedangkan kitosan cair 150 ppm memiliki nilai absorbansi 0,015. Berdasarkan gambar, nilai absorbansi mengalami fluktuatif, seharusnya semakin tinggi konsentrasi kitosan yang digunakan maka semakin banyak logam yang diserap dan nilai absorbansinya akan semakin kecil hal ini tidak sesuai dengan literatur yang ada. Nilai absorbansi yang fluktuatif dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengadukan, ukuran partikel, jumlah adsorben dan pH (Rumapea 2009). Waktu yang dibutuhkan untuk proses adsorpsi berbanding terbalik dengan jumlah adsorben yang dibutuhkan, artinya semakin besar jumlah adsorben, maka waktu yang dibutuhkan semakin sedikit (Khopkar 1990 diacu dalam Rumapea 2009).

Nilai absorbansi logam berat antara kitosan padat berbeda dengan kitosan cair. Hubungan konsentrasi kitosan padat dengan absorbansi disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik absorbansi kitosan serbuk

Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa nilai absorbansi terkecil diperoleh dengan berat serbuk kitosan 0,2 gram, semakin banyak serbuk kitosan yang digunakan maka semakin besar nilai absorbansinya. Kenaikan drastis terlihat pada nilai absorbansi dengan penggunaan kitosan 1 gram dengan 1,2 gram. Kitosan serbuk memiliki sifat dapat diubah dari kasar menjadi halus, mudah dilarutkan dan memiliki kemurnian yang tinggi (Hirano 1994 diacu dalam Rumapea 2009). Nilai absorbansi yang fluktuatif dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain pengadukan, ukuran partikel, jumlah adsorben dan pH (Rumapea 2009). Waktu yang dibutuhkan untuk proses adsorpsi berbanding terbalik dengan jumlah adsorben yang dibutuhkan, artinya semakin besar jumlah adsorben, maka waktu yang dibutuhkan semakin sedikit (Khopkar 1990 diacu dalam Rumapea 2009).

Absorbansi kitosan cair dan kitosan serbuk menunjukkan hasil yang berbeda. Kitosan cair memiliki kemampuan menyerap logam lebih baik dibandingkan kitosan serbuk yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak kitosan yang digunakan, kehalusan dari kitosan, temperatur larutan, pola dan kecepatan pengadukan, adanya ion-ion lain yang mempengaruhi seta pH larutan. Cara pengadukan pada larutan mempengaruhi kapasitas adsorbdi. Perbedaan dalam pola pengadukan mempengaruhi tidak hanya laju adsorbsi tetapi juga total logam yang dapat terserap (Roberts 1992 diacu dalam Sirait 2002). Kitosan dengan ukuran 100, 200 mesh mampu mengikat ion-ion logam lebih cepat dan lebih banyak dibanding keping kitosan 2mm (Muzarelli 1997 diacu dalam Sirait 2002).



Tugas M.K. Diversifikasi dan Pengembangan Produk Hasil Perairan (THP 333)

1. Perbedaan antara biscuit, cracker dan cookies.

a. Biscuit merupakan produk makanan yang dibuat dari bahan dasar terigu yang dipanggang hingga kadar air kurang dari 5 %. Biscuit memiliki rasa manis, berbentuk pipih dan bertekstur padat. Biscuit terbuat dari adonan keras, jika dipatahkan penampang teksturnya padat dan dapat berkadar lemak tinggi atau rendah.

b. Cracker merupakan jenis biscuit yang terbuat dari adonan keras melalui proses fermentasi atau pemeraman berbentuk pipih, rasanya mengarah asin dan relatif renyah, serta jika dipatahkan penampang melintangnya akan berlapis-lapis.

c. Cookies merupakan sinonim biscuit, sebutan yang digunakan di Amerika dan biscuit untuk sebutan di Inggris. Terbuat dari adonan ;unak, berkadar lemak tinggi, relatif renyah, dan bila dapatahkan penampang potongan bertekstur kurang padat.

2. Pasta

Pasta adalah makanan olahan yang dibuat dari campuran tepung terigu, air, telur dan garam. Adonan tersebut dicetak dalam berbagai variasi ukuran dan bentuk. Jenis pasta yang populer di Indonesia adalah sphageti, makaroni dan lasagna. Pasta dibuat dari tepung terigu semolina yang merupakan hasil gilingan biji gandum durum dicampur telur sehingga sedikit berwarna kuning cerah dan bila dimasak dengan benar akan menghasilkan tekstur sedikit kenyal. 3. Perbedaan bihun, sun dan mie.

a. Bihun (mihun) merupakan nama salah satu jenis makanan yang berasal dari Tiongkok, bentuknya seperti mie, namun lebih tipis. Bihun berasal dari bahasa Tionghoa, yaitu “Bi” artinya beras dan “hun” artinya tepung. Bahan baku bihun sendiri terbuat dari tepung beras.

b. Soun merupakan jenis mie yang dibuat dari campuran tepung kentang dan tepung kacang hijau. Terdapat persamaan anatar bihun dan soun yaitu sama-sama berukuran kecil dan berwarna putih namun, perbedaan terletak pada bahan baku pembuatannya serta warna. Warna pada soun terlihat lebih bening dan mengkilap bila dibandingkan dengan bihun.

c. Mie merupakan makanan yang terbuat dari adonan yang tidak beragi dengan bahan dasar dari berbagai jenis tepung terigu. Kandungan protein utama tepung terigu yang berperan dalam pembuatan mie adalah gluten. 4. Gelatinisasi Gelatinisasi adalah fenomena pembentukan gel yang diawali dengan pembengkakan granula pati akibat penyerapan air. Proses membengkaknya granula pati yang disebabkan oleh terserapnya air masuk dalam pati, namun demikian julah air yang terserap dan pembengkaknnya terbatas. Air yang serap tersebut hanya dapat mencapai 30 %. Peningkatan volume granula pati yang terjadi di dalam air pada suhu antara 55 oC dan 65 oC merupakan pembengkakan yang sesungguhnya dan setelah pembengkakan ini granula pati akan kembali pada kondisi semula. 5. Fenomena yang terjadi terhadap beras pada tingkat suhu yang berbeda. a. Direndam dengan air dingin Beras yang dimasukkan dalam air akan menyerap air dan granula patinya akan membengkak, namun pembengkakan ini terbatas hanya samapi pada 30 % air yang terserap. Adapun bentuk grabula pati pada beras yang direndam pada suhu dingin (30 oC) dapat dilihat pada gambar di bawah ini. b. Direndam dengan air bersuhu 40 oC Suhu yang semakin meningkat menyebabkan granula pati juga akan terus menyerap air dan terus membengkak. Pembengkakan granula pati tersebut akan melebihi 30 % dari berat awal pati. Mekanisme pembengkakan ini disebabkan oleh molekul-molekul amilosa dan amilopektin secara fisik hanya dipertahankan oleh adanya ikatan hydrogen lemah. Atom hydrogen dari gugus hidroksil akan tertarik pada muatan negative atim oksigen pada gugus lainnya. Bila suhu suspensi naik, maka ikatan hydrogen makin lemah, sedangkan energi kinetik molekul-molekul air akan meningkat, memperlemah ikatan hidrogen antara molekul air. Adapun bentuk granula pati pada beras dengan perendaman pada suhu 40 oC dapat dilihat pada gamabr berikut. c. Direndam dengan air bersuhu 80 oC Jika dispersi pati beras dipanaskan pada suhu 60-90 oC, maka proses adsorbsi dan keluarnya amilosa akan lebih intensif. Pada beberapa titik akan terjadi gelatinanisasi yang terlihat sebagai hilangnya birefringence, meningkatnya viskositas, kejernihan dan kepekaan terhadap aktivitas enzim, perubahan difraksi sinar-X. pada kondisi ini, granula pati akan mengembang sebesar mungkin dan terbentuk sol pati. Adapun bentuk granula pati tersebut dapat lihat pada gambar berikut. d. Direndam pada suhu 150-180 oC Pada beberapa kasus, granula pati yang dipanaskan sampai suhu 90 oC akan mencapai gelatinasasi optimum dan granula akan membengkak maksimal, sedangkan pada beberapa kasus lain akan menyebabkan keruasakan granula pati, sehingga isi dalam pati akan keluar. Kondisi ini disebakan ketidakmampuan struktur dan ikatan hidrogen untuk mempertahankan polimer pati untuk tetap bertahan. Konsidi ini terjadi pada pemanasan pasta pati yang berlebihan, sehingga viskositas sol pasta menurun. e. Direndam pada suhu 180 oC dalam keadaan vacuum Pada kondisi vakum (hampa udara), tekanan lingkungan lebih rendah. Hal ini akan berbeda dengan keadaan pati yang dipanaskan pada suhu 150 oC (1 atm). Pati yang dipanskan pada keadaan vakum akan memiliki tingkat viscositas sol pasta yang masih tinggi jika dibandingkan dengan keadaan biasa, namun gelatinisasinya masih lebih baik.